Gie Mata Angin

Kamis, 04 November 2010

Galang Dana Selama Seminggu



Kamis, 28 Oktober 2010 | 12:30 WIB




BANGKO, TRIBUN-Gempa bumi berkekuatan 7,2 skala richter yang mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumbar, menewaskan 112 orang dan 502 lainnya dinyatakan hilang, serta letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah yang menyebabkan ribuan penduduk harus mengungsi, membuat para mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam pecinta alam (PA) melakukan aksi penggalangan dana. Sekitar 15 orang berkumpul di bawah jembatan layang, sambil menyodorkan kardus kepada para pengguna jalan yang lewat untuk meminta sumbangan.


Koordinator aksi, yang juga merupakan ketua Mapala Mata Angin, Galih didampingi rekannya Dino Chandra mengatakan, aksi tersebut sebagai wujud solidaritas kepada warga yang terkena gempa bumi di Sumbar. "Kami mendapatkan informasi dari rekan sesama Mapala di Padang. Mereka mengabarkan, masih membutuhkan bantuan, terutama tenda," ujarnya kepada Tribun, Rabu (27/10).

Galih menambahkan, sebelum menggelar aksi di jalan, terlebih dahulu akan membuat posko di Kampus STKIP YPM Bangko, namun belum terlaksana. Menurutnya rencana akan dilakukan selama seminggu, dimulai pada hari ini (Rabu. red).

"Karena ini untuk dua lokasi bencana, kemungkinan lamanya aksi akan berlangsung selama seminggu. Hari ini memang masih berkumpul di satu tempat. Berikutnya, kami akan membagi agar anggota bergerak ke berbagai tempat, termasuk ke pasar dan rumah-rumah (door to door)," ungkap Galih.

Dino juga menimpali, akan meminta sumbangan dari dinas atau instansi. Ini akan dilakukan, jika memang memungkinkan. "Sementara kami menggalang aksi di jalan. "Untuk instansi, siapa tahu bisa memberikan bantuan operasional kendaraan untuk mengirimkan bantuan. Dengan demikian anggota bisa turut serta semua," katanya.

Remaja yang mempunyai nama rimba (nama panggilan dalam perkumpulan pecinta alam) Popeng ini menambahkan, aksi turun ke jalan untuk meminta sumbangan, merupakan aksi spontanitas. Setelah mendapat kabar adanya gempa, belum melakukan rencana apa-apa, namun setelah melihat informasi di televisi ada korban jiwa, akhirnya memutuskan melakukan penggalangan dana.

 "Kebetulan ada yang menyampaikan bahwa di lokasi gempa, masih banyak membutuhkan tenda, sehingga menindaklanjutinya," ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan aksi ini sudah sering dilakukan, saat ada bencana alam. Seperti gempa Padang yang pernah terjadi sebelumnya hingga bencana banjir bandang yang terjadi di Merangin, akibat meluapnya Sungai Tabir.

Popeng menjelaskan, uang yang akan terkumpul dalam aksi tersebut, akan digunakan untuk membeli tenda dan juga barang-barang lain, seperti sembako. "Kami masih mempunyai stok tenda lima unit. Itu akan kami tambah lagi dengan dana yang terkumpul. Fokus kami untuk yang dekat dahulu, yaitu bencana di Sumbar. Jika memang ada kelebihan, barulah dikirim untuk bencana Gunung Merapi di Jateng," tandasnya. (nto)

Pelat Merah Jarang Memberi
ANEKA
ekspresi ditunjukkan para peserta aksi penggalangan dana. Mereka berasal dari Mapala Mata Angin, STKIP YPM Bangko dan Sispala Caksa dari SMAN 6. Sekitar 15 orang berkumpul di bawah jembatan layang. Di tangan mereka ada kardus bekas mi instan yang diberi tulisan "Peduli Bencana Alam", di satu sisinya. Selain itu, ada juga yang membawa poster.

Di tengah aksi, mereka juga masih sempat berfoto secara bergantian menggunakan kamera handphone. Sebagian lagi, tetap berada di tengah jalan dengan terus menyodorkan kardus ke arah pengendara yang melintas.

"Mentawai kena gempa bumi, di Jawa, Merapi meletus. Mohon bantuan kepada bapak dan ibu," teriak Galih, koordinator aksi tanpa menggunakan pengeras suara.

Selain di jalur tengah, ada juga yang menghadang di jalur sepeda motor. Tribun menghampiri keduanya. Cukup lama juga memperhatikan keduanya menyodorkan kardus kepada pengendara yang melintas di hadapannya.

"Kalau mobil pelat merah, jarang sekali yang memberi Bang. Ya namanya meminta sumbangan sukarela," ujar satu dari dua orang yang masih berstatus pelajar ini menjawab pertanyaan apakah pengendara mobil pelat merah yang melintas banyak yang memberikan sumbangan atau tidak.

Pantauan Tribun, sekitar pukul 15.00 WIB, ada beberapa pengendara yang melintas kemudian berhenti dan menanyakan aksi apa yang dilakukan. Banyak juga pengendara baik roda dua dan roda empat yang mengulurkan tangan memberikan bantuan. (nto).

sumber: http://www.tribunjambi.com//read/artikel/5614

Artikel Terkait Lainnya:

0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45

Poskan Komentar

Komentar Anda sangat kami harapkan, sekiranya Anda sudi memberikan komentar.

Selamat datang di blog saya | Blog baru dihuni | Silahkan Anda memberi kritik dan komentar untuk pengembangan blog saya ini | Saya harap Anda tidak akan pernah bosan untuk melihat konten blog yang tidak bagaimana ini | Salam saya Gie Mata Angin | Cayoooooooooooooooooo ...............