Gie Mata Angin

Jumat, 10 Desember 2010

Mencari Makna Natal

Sudah berapa kali Anda merayakan Natal? Anda dapat menghitungnya bukan? Namun, apakah Anda telah memberi makna yang tepat dalam setiap perayaan momen bersejarah itu? Jangan-jangan kita telah kehilangan makna Natal yang sejati!

Sebagai seorang anak kecil, datangnya Natal selalu ditunggu-tunggu. Mengapa begitu? Karena ketika Natal tiba akan mendapatkan sesuatu yang baru: baju baru dan barang-barang lain yang serba baru. Kala itu, bagi saya Natal identik dengan mendapatkan hadiah. Karena itulah selalu bermimpi-mimpi Natal segera tiba. Bila memungkinkan Natal dirayakan setiap hari agar hadiahnya makin melimpah.

Bagi aktivis gereja, Natal mungkin identik dengan kegiatan super. Akibatnya menjadi super sibuk. Latihan ini dan itu. Menghafal naskah drama. Latihan paduan suara dan sebagainya. Mal pun tidak ketinggalan menyambut Natal. Bagi mereka, Natal adalah mengumandangkan kidung Natal. Menjual aksesori-aksesori Natal. Gebyar Natal menggema memenuhi mal.

Bagaimana dengan pelaku bisnis? Bagi pebisnis biro perjalanan misalnya, Natal dikaitkan dengan ramainya perjalanan wisata. Banyak orang yang melakukan ziarah atau wisata rohani ke berbagai tempat. Yang bergerak dalam bisnis perhotelan mungkin memaknai Natal dengan banyaknya tamu hotel. Hotel dipenuhi para tamu yang sedang menjalankan “ritual“ libur Natal. Lain lagi dengan para pekerja. Pekerja perusahaan mungkin saja memaknai Natal dengan Tunjangan Hari Raya (THR). Maka benarlah kata seseorang, Natal memberi makna yang berbeda untuk orang yang berbeda.

Akan tetapi, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah seandainya hal-hal di atas tidak ditemui dalam Natal, masihkah disebut Natal? Masih adakah makna Natal tanpa embel-embel tersebut? Masihkah disebut Natal tanpa menerima SMS atau kartu Natal? Masihkah disebut Natal tanpa lagu Malam Kudus atau pohon terang?

KASIH ALLAH

Semoga Natal tidak kehilangan makna tanpa hal-hal di atas. Memang gebyar itu diperlukan. Tentu kita tahu suatu perayaan tanpa gebyar nampaknya kurang greget. Situasi menjadi datar dan kurang menantang. Namun, kita perlu ingat peristiwa Natal yang pertama. Yesus dilahirkan bukan di tempat istimewa. Yesus lahir di tempat hina—kandang Betlehem.

Sesungguhnya, Natal berbicara tentang kasih Allah. Mengapakah Allah Bapa mengirimkan putra tunggal-Nya? Tentu, bukan tanpa alasan. Bukan pula tanpa maksud. Bapa adalah Allah yang tahu tujuan dan maksud agung-Nya. Yohanes menuliskan hal fundamental tentang maksud Bapa. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak- Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”] (Yoh. 3:16).

Keselamatan dan hidup kekal merupakan anugerah Allah. Anugerah yang sangat berharga. Anugerah tersebut tidak dapat dibeli dengan uang, juga tidak dapat dicapai dengan kemampuan manusia. Hidup kekal tidak dapat diberikan oleh keyakinan apa pun. Hidup kekal adalah anugerah Allah dalam Yesus Kristus Tuhan kita.

Melalui peristiwa Natal, manusia diberikan kepastian akan hidup kekal itu. Asal percaya kepada-Nya, hidup kekal telah tersedia. Hal inilah yang membuat manusia bersukacita. Sukacita abadi yang tak tergantikan oleh apa pun. Mengapa demikian? Jelas, ketika kita meninggal dunia suatu hari kelak, kita tahu pasti ke mana tujuan kita. Pada suatu kesempatan seorang nenek ditanyai ke manakah ia setelah meninggal? Disertai ketidakpastian sang nenek mengatakan tidak tahu. Namun, Injil Yohanes menegaskan jaminan keselamatan yang Tuhan sediakan. Seseorang boleh kehilangan apa pun. Segala sesuatu dapat berubah karena tidak ada yang kekal di dunia ini. Namun, sangat berbahaya bila seseorang tidak menerima anugerah keselamatan.

KESEDERHANAAN

Para penguasa di berbagai belahan dunia selalu memilih tempat terbaik untuk kelahiran anaknya. Mungkin saja di kota terkenal, dokter ternama, rumah sakit bergengsi, dan hotel— penginapan berkelas. Namun, ketika Putra Allah lahir semua itu tidak kita jumpai. Sejarah mencatat, tidak ada tempat yang lebih hina dari tempat kelahiran Juruselamat. Dia lahir di tempat yang tak terduga. Tempat yang tidak pantas untuk lahirnya Raja di atas segala raja. Bukankah tempat tersebut sebuah kota kecil? Namun, semua itu harus terjadi seperti nubuat Nabi Mikha. Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala (Mi. 5:1).

Kesederhanaan Natal membuat manusia yang hina jadi mulia. Paulus pun menuliskannya kepada jemaat di Korintus. “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Kor. 8:9). Dampak Natal menjadi luar biasa bagi mereka yang memercayainya. Tentu bukan karena Natal itu sendiri melainkan pribadi di balik peristiwa Natal tersebut. Pribadi itu adalah Tuhan yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya.

Dalam buku Mencari Natal yang Hilang (Gloria Graffa, 2003), Eka Darmaputera menyebutkan kesederhanaan Natal. Tempat kelahiran-Nya sederhana, sebuah kandang kecil di sebuah kota yang kecil pula. Perayaannya juga sederhana: para gembala, para pekerja keras meninggalkan pekerjaan mereka selama beberapa jam untuk pergi dan “melihat apa yang terjadi di sana” (Luk. 2:15). Setelah itu, mereka pun kembali pada tanggung jawab masing-masing.

Persembahan yang mereka berikan pun begitu sederhana, namun tak ternilai. Apakah persembahan yang diberikan?
  • Yusuf mempersembahkan ketaatannya.
  • Maria mempersembahkan tubuhnya.
  • Para gembala mempersembahkan kasih yang mendalam.
  • Para orang majus mempersembahkan penyembahan mereka.
Akan tetapi, pada saat yang sama ada pula orang-orang yang kehilangan makna Natal yang pertama. Siapakah mereka?
  • Pemilik penginapan yang terlalu sibuk untuk memerhatikan tamu-tamunya.
  • Para tamu yang terlalu memusatkan perhatian pada kenikmatan jasmani dan urusan pribadi, sehingga tak tersentuh oleh peristiwa yang terjadi di kandang domba itu.
  • Raja Herodes yang begitu larut dalam perasaan tidak nyamannya, istananya, dan impian-impiannya yang menyedihkan untuk menggapai kemuliaan.
Orang-orang tersebut terlalu sibuk, begitu terpaku, dan terlilit oleh berbagai hal. Maka mereka tidak dapat menghayati makna peristiwa bersejarah itu.

MULAI BERTANYA

Sebagai orang percaya, kita perlu menanyakan apakah dalam tahun-tahun terakhir ini kita juga telah kehilangan makna Natal yang sesungguhnya? Apakah kita terlalu sibuk dan dikuasai oleh hal-hal materi dan pujian manusia? Apakah kita terancam kehilangan makna Natal yang sejati? Memang Tuhan tidak menghendaki kita mengurangi kesenangan di hari Natal. Lagi pula, Dia sendiri telah “memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati” (1 Tim. 6:17). Namun, Dia menghendaki agar makna Natal itu meresap kuat dalam hidup kita melebihi segala macam perayaan. Bagaimana dengan Anda? Sudahkah mengalaminya?

sumber: http://www.ebahana.com

Artikel Terkait Lainnya:

0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45

Poskan Komentar

Komentar Anda sangat kami harapkan, sekiranya Anda sudi memberikan komentar.

Selamat datang di blog saya | Blog baru dihuni | Silahkan Anda memberi kritik dan komentar untuk pengembangan blog saya ini | Saya harap Anda tidak akan pernah bosan untuk melihat konten blog yang tidak bagaimana ini | Salam saya Gie Mata Angin | Cayoooooooooooooooooo ...............