Gie Mata Angin

Selasa, 24 Agustus 2010

ETIKA PENELUSURAN GOA

ETIKA PENELUSURAN GOA

Menelusuri gua dapat dikerjakan untuk olah raga maupun untuk tujuan ilmiah. Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi ETIKA dan KEWAJIBAN kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar akan kewajibannya terhadap sesama penelusur dan masyarakat disekitar lokasi gua-gua. Kemahiran teknik saja TIDAK CUKUP untuk menganggap dirinya mampu dan pantas melakukan kegiatan penelusuran gua.

Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus memenuhi ETIKA dan KEWAJIBAN penelusuran gua.


ETIKA
Sejak semula harus disadari bahwa seorang penelusur gua DAPAT merusak gua, karena membawa kuman, jamur, dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya masih murni, tidak tercemar. Penelusuran gua akan merusak gua apabila meninggalkan kotoran berupa sampah, sisa karbit, puntung rokok, sisa makanan, batu baterai mati, kantong plastik, botol/kaleng minuman dan makanan dalam gua.

MEMBUANG benda-benda tersebut di atas adalah LARANGAN MUTLAK juga dilarang corat-coret
gua dengan benda apapun juga.

Karenanya ikutilah Motto :

“jangan mengambil sesuatu……… kecuali mengambil potret”

“jangan meninggalkan sesuatu ….. kecuali meninggalkan jejak”

“jangan membunuh sesuatu ……… kecuali membunuh waktu”

Gua adalah bentukan alam yang terbentuk dalam kurun waktu ribuan tahun. Setiap usaha merusak gua mendatangkan kerugian yang tidak dapat di tebus. Karenanya jangan merusak gua, mengambil atau memindahkan sesuatu di dalam gua tanpa tujuan jelas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk tuuan ilmiah sekalipun harus diusahakan pengambilan specimen secara cermat, terbatas dan selektif. Itupun setelah diyakini, bahwa belum tersedia specimen yang sama di dalam laporan atau museum dan belum diambil specimen yang sama oleh ahli speleologi lainnya.

Menelusuri dan meneliti gua harus dilakukan dengan penuh RESPEK, tanpa mengganggu, mengusir, merusak/mengambil isi gua, baik yang berupa benda mati atau yang hidup.
Menelusuri gua harus disertai kendaraan, bahwa kesanggupan dan ketrampilan pribadi TIDAK USAH DIPAMERKAN. Sebaliknya ketidakmampuan tidak perlu ditutupi oleh karena rasa malu. Bertindaklah sewajar-wajarnya, tanpa membohongi diri sendiri dan orang lain. Apabila tidak sanggup, tetapi dipaksakan maka hal ini akan membawa akibat buruk yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Adalah melanggar ETIKA untuk memandang rendah ketrampilan serta kesanggupan sesama penelusur. Juga melanggar etika bila memaksakan diri dilakukan tindakan di luar kemampuan teknis juga apabila belum siap mental dan kesehatan tidak memadai.

Tunjukkan RESPEK terhadap penelusur gua dengan cara :

- Tidak menggunakan bahan-bahan atau peralatan yang disediakan oleh rombongan
lain tanpa persetujuan mereka. Jangan membahayakan para penelusur lain, misalnya
menimpukkan batu ketika ada penelusur lain di dalam gua, mengambil atau memutuskan
tali yang sedang terpasang, memindahkan tangga atau alat-alat lain yang dipasang
pemakai, penelusur lain.

- Menghasut penduduk di sekitar gua untuk melarang atau menghalangi rombongan
lain memasuki gua, karena tidak ada satupun gua di bumi ini milik perseorangan
kecuali apabila gua itu telah dibeli oleh yang bersangkutan. Untuk tujuan ilmiahpun,
setiap gua harus dapt diteliti setelah menempuh prosedur yang berlaku.

- Jangan gegabah menganggap anda penemu sesuatu, kalau anda yakin betul, bahwa
tidak ada orang lain yang menemukannya pula.

- Jangan melaporkan hal-hal yang tidak benar demi sensasi atau ambisi pribadi,
karena hal ini berarti membohongi diri sendiri dan dunia ilmu speleologi khususnya.

- Setiap usaha penelusuran gua ialah USAHA BERSAMA. Bukan usaha yang dicapai
sendiri. Karena setiap publikasi dari hasil penelusuran gua tidak boleh menonjolkan
prestasi pribadi tanpa mengingat jasa sesama penelusur.

- Jangan menjelek-jelekkan nama sesama penelusur dalam suatu publikasi walaupun
si penelusur itu mungkin berbuat hal-hal negatif secara sadar atau tidak sadar.
Setiap publikasi negatif tentang sesama penelusur akan memberikan gambaran negatif
terhadap semua penelusur gua.

- Jangan melakukan penelitian yang sama apabila ada rombongan lain yang sedang
mengerjakan DAN BELUM MEMPUBLIKASIKANNYA.


BAHAYA-BAHAYA PENELUSURAN GUA
Bahaya-bahaya penelusuran gua secara sudut pandangnya dapat dibedakan menjadi
dua :

A. Antroposentrisme, meninjau sudut pandang bahaya penelusuran gua terahadap penelusur gua, biasanya terjadi akibat kealpaan atau kecerobohan penelusur gua itu sendiri.

B. Speleosentrisme, meninjau dari sudut pandang bahaya penelusuran gua terhadap gua itu sendiri, dari

Tindakan-tindakan para penelusur gua.

Bahaya-bahaya dari sudut pandang Antrosentrisme :

1. Terpeleset/terjatuh dengan akibat fatal, atau gegar otak, terkilir, terluka, patah tulang dsb. Hal ini paling sering terjadi, antara lain karena : penelusur terburu-buru meloncat, salah menduga jarak dan sebagainya.

2. Kepala terantuk atap gua/stalaktit/bentukan gua lainnya. Akibatnya : luka
memar, luka berdarah, gegar otak. Wajib pakai helm.

3. Tersesat. Terutama bila lorong bercabang-bertingkat dan daya orientasi pemimpin regu penelusur kurang baik. Karenanya setiap penelusuran wajib dilakukan dengan penuh perhatian oleh setiap penelusur. Bentuk lorong yang telah dilewati, dibelakang pungung harus diperhatikan secara periodik, karena saat kembali pasti berbeda dengan saat pergi. Pada setiap percabangan ditinggalkan tanda yang mudah dikenal dan tidak merusak lingkungan (misalnya tumpukan batu, atau kertas berwarna dan berefleksi bila terkena sorotan lampu (fluorensensi) yang mudah diangkat kembali). Hal ini tambah penting, apabila kecuali bercabang gua bertingkat banyak.

4. Tenggelam. Terutama apabila nekat memasuki gua pada musim hujan tanpa mempelajari topografi dan hidrologi karst maupun sifat sungai di bawah tanah. Bahaya semakin nyata kalau harus melewati air terjun atau jeram deras. Apalagi kalau harus melakukan penyelamatan bebas tanpa alat dan penelusur kurang mahir berenang/menyelam. Jangan lupa membawa pelampung dan sumber cahaya kedap air. Mengarungi sungai yang dalam, harus pakai tali pengaman dengan lintasan tepat.

5. Kedinginan (Hipotermia). Hal ini terutama bila lokasi gua jauh di atas permukaan laut, penelusur beberapa jam terendam air, dan adanya angin kencang yang berhembus dalam lorong tersebut. Diperberat apabila penelusur lelah, lapar, tidak pakai pakaian memadai. Karenanya harus tepat mengetahui lokasi mulut gua dan lorong-lorong ketinggiannya di atas permukaan laut (diukur pakai altimeter), suhu air dan udara dalam gua. Harus pula masuk gua dalam keadaan fisik sehat, cukup makan dan bawa makanan cadangan bergizi tinggi.


6. Dehidrasi. Kekurangan cairan. Hal ini sudah merupakan bahan penelitian cermat di Perancis. Hampir senantiasa bila sudah timbul rasa haus, sudah ada gejala dehidrasi. Karenanya sudah menjadi suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar lagi, bahwa sebelum memasuki gua, setiap penelusur harus minum secukupnya. Cairan paling tepat untuk menghindari dehidrasi ialah larutan oralit atau garam anti diare.

7. Keruntuhan atap atau dinding gua. Ini memang nasib sial, tetapi sudah cukup sering terajdi di luar negeri menaiki tebing dengan andalan pada paku tebing yang dindingnya rapuh. Atau bila kebetulah terjadi gempa bumi. Karenanya wajib mempelajari dan memperbaiki sifat batu-batuan dinding dan atap gua. Runtuhan atap yang berserakan bukan berarti gua itu rapuh, karenamungkin saja atap itu sudah puluhan tahun yang lalu runtuh, tetapi penelusur wajib memperhatikan apakah lapisan-lapisan batu gamping yang menunjang atap itu kuat atau sudah terlihat terlepas.

8. Radiasi dalam gua. Hal ini belum diperhatikan sama sekali di Indonesia, padahal di luar negeri sudah merupakan bahaya nyata. Terutama akibat gas radioaktif radon dan turunannya. Penelusur yang sering memasuki gua yang bergas radon ini dapat menyerap secara akumulatif gas ini ke dalam paru-parunya, dan terbukti, apabila penelusur gemar merokok, maka bahaya menderita kanker paru-paru akan berlipat ganda. Itu sebabnya sangat dicela penghisap rokok menjadi penelusur gua. Merokok dalam gua dilarang mutlak karenameracuni udara gua dan paru-paru penelusur lainnya yang tidak merokok.

Sumber: http://www.petualangan.com/2008/08/etika-penelusuran-goa/#more-3

Artikel Terkait Lainnya:

0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45

Poskan Komentar

Komentar Anda sangat kami harapkan, sekiranya Anda sudi memberikan komentar.

Selamat datang di blog saya | Blog baru dihuni | Silahkan Anda memberi kritik dan komentar untuk pengembangan blog saya ini | Saya harap Anda tidak akan pernah bosan untuk melihat konten blog yang tidak bagaimana ini | Salam saya Gie Mata Angin | Cayoooooooooooooooooo ...............