Gie Mata Angin

Kamis, 26 Agustus 2010

Pencinta Alam, antara Klaim dan Realita

Pencinta Alam, antara Klaim dan Realita

Pencinta Alam, mungkin istilah yang sering kita dengar. Kita cukup sering mendengar organisasi pelajar pencinta alam (PA), mahasiswa pencinta alam (mapala) dan semisalnya. Bahkan, rekan-rekan kartar pun punya organisasi PA. Namun, sayangnya, label nama “pencinta alam” ini kebanyakan hanya sekedar nama. Bahkan, ada juga stigma kepada rekan-rekan pencinta alam, bahwa mereka ini hobbynya hiking, caving, diving, climbing dan aktivitas lapangan lainnya, dengan stereotype khusus seperti berambut gondrong (bahkan agakgimbal), perokok (bahkan kadang juga suka ‘minum’), celana tampak lusuh dan lubang-lubang, pokoknya tampak kumal dan lusuh. Walau stigma ini belum tentu benar…

Tidak jarang pula, kita lihat ada rekan-rekan yang mengatasnamakan organisasi “pencinta alam” ini, buang puntung rokok sembarangan ketika hiking, bahkan botol minuman dan bungkus mie pun berserakan tidak karuan. Pohon-pohon pun diukir “xxx pala is here”, cat-cat pylox pun betebaran di bebatuan “xxx pala 2007″ dst. Ini semua adalah realita yang pernah Saya saksikan langsung ketika juga masih aktif di organisasi “PA” di saat SMU dahulu. Dan saya yakin, sobat-sobat sekalian yang pernah naik gunung,  mungkinpernah mendapati hal seperti ini.

Oke, bro… memang tidak semua mereka seperti ini. Saya tahu itu. Saya di sini tidak bermaksud menjudge bahwa semua yang mengklaim “pencinta alam” itu seperti ini. Namun saya hanya ingin mengkritisi sebagian -kalau tidak mau disebut mayoritas- oknum yang berlabel “pencinta alam”, dan saya ingin meletakkan sebuah “timbangan refleksi” antara klaim dan realita sebutan “pencinta alam” tersebut. Karena menurut pemikiran Saya sampai saat ini -walaupun subyektif-, Saya meyakini bahwa manusia itu tidak lepas dari dua kondisi, entah itu perusak alam atau penikmat alam. Jadi, kita tinggal pilih, kita bisa menjadi perusak alam, penikmat alam, atau bahkan kedua-duanya.

Saya yakin, banyak yang setuju dengan Saya, bahwa di mana ada manusia, pasti lebih banyak kerusakan yang terjadi. Bahkan alam kita yang indah, hanya untuk dinikmati keindahannya oleh para penikmat alam -walau mereka berusaha tidak merusaknya-, tetap saja sedikit banyak mereka berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan, baik disengaja maupun tidak, disadari maupun tidak.
Hakikat “Pencinta Alam”
Pencinta Alam, terdiri dari dua kata : Pencinta dan Alam. Pencinta adalah pelaku (subyek) dari perbuatan mencintai. Jadi kita perlu untuk mendefinisikan kata “cinta” itu sendiri. Sedangkan alam -yang asal katanya dari B.Arab- berarti segala apa yang ada di langit dan bumi (menurut Kamus Besar B. Indonesia). Namun, lebih spesifiknya segala apa yang ada di bumi baik itu daratan, lautan maupun udara, baik itu pepohonan, hewan dan manusia sekalipun. Adapun “cinta”, maka definisi-nya sangat banyak dan bervariasi, namun semuanya bermuara pada satu, yaitu “kasih sayang yang mendalam”, dimana konsekuensi dari cinta adalah “pengorbanan”, maksudnya kita akan berupaya menyenangkan orang yang kita cintai dengan segala bentuk upaya dan cara, bahkan pada puncaknya dengan pengorbanan sekalipun.

Oke, kita tidak akan membahas panjang lebar tentang masalah definisi. Cukuplah kita sudah memahami makna tersebut. Sekarang mari kita mencermati kembali kata “Pencinta Alam”. Mungkin, menurut definisi terdekat -dengan bahasa Saya-, Pencinta Alam itu adalah orang yang menaruh perhatian mendalam terhadap alam lingkungan, care terhadapnya, dan bahkan rela berjuang untuk mempertahankan eksistensinya, dan akan tersakiti apabila ada yang merusaknya, sedikit maupun banyak.

Sebelum itu sobat, Saya ingin menegaskan lagi, dan mengajak Anda semua berfikir :
1.   Bahwa yang paling layak untuk disebut dengan “Pencinta Alam” sejati, adalah Dzat yang menciptakan alam tersebut, karena Dia-lah yang menumbuhkannya, yang mengaturnya dan yang memeliharanya. Oleh karena itu, wajib bagi seorang “pencinta alam” untuk mencintai -pertama kali dan yang terutama-, Dzat yang menciptakan alam semesta, sebelum dia mencintai alam ciptaan-Nya. Dan konsekuensi dari bentuk kecintaan adalah mematuhi dan mentaati apa yang Ia perintahkan, menjauhi apa yang Ia larang. Sungguh naif sekali, apabila ada seorang “pencinta alam” yang tidak mau mencintai-Nya, bahkan tidak mau mengakui-Nya…
2.   Seorang “pencinta alam”, sepatutnya dia mencintai dirinya sendiri sebab dirinya adalah bagian dari alam. Bagaimana bisa seseorang mencintai alam namun ia tidak mencintai dirinya sendiri. Apa bentuk dari kecintaan terhadap diri sendiri? Ya tentu saja, ia harus memelihara keadaan dirinya, menjaga kesehatannya, memelihara kebersihannya. Bukannya malah tampak kumuh dan kumal, bahkan merusak dirinya dengan rokok dan minuman keras. Mereka ini bukanlah pencinta alam, tapi perusak diri dan perusak alam.
3.   Seorang “pencinta alam”, seyogyanya mencintai manusia lainnya, terutama orang tuanya yang melahirkannya. Berbakti kepada keduanya. Bersikap lemah lembut dan memelihara kepada keduanya ketika keduanya telah renta. Selain itu juga hendaknya ia mencintai saudara-saudaranya.
4.   Seorang “pencinta alam”, selayaknya menjaga dan memelihara lingkungan sekitarnya. Aktif melakukan konservasi lingkungan. Berkampanye untuk melakukan perbaikan lingkungan. Berupaya mengurangi hal-hal yang dapat merusak alam.

Sebenarnya, masih banyak lagi timbangan refleksi istilah “pencinta alam”. Namun, keempat hal di ataslah yang paling fundamen menurut Saya untuk bisa menggunakan istilah “pencinta alam”. Walaupun, kebayakan manusia tidak lepas dari dua keadaan, entah sebagai “penikmat alam”, atau bahkan “perusak alam”. Sekarang semuanya kembali kepada kita masing-masing. Mau jadi yang manakah kita??

Artikel Terkait Lainnya:

0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45

Poskan Komentar

Komentar Anda sangat kami harapkan, sekiranya Anda sudi memberikan komentar.

Selamat datang di blog saya | Blog baru dihuni | Silahkan Anda memberi kritik dan komentar untuk pengembangan blog saya ini | Saya harap Anda tidak akan pernah bosan untuk melihat konten blog yang tidak bagaimana ini | Salam saya Gie Mata Angin | Cayoooooooooooooooooo ...............